Archive for the ‘Opensource’ category

MENGEMBANGKAN PERPUSTAKAAN DENGAN FREE OPEN SOURCE SOFTWARE

May 7th, 2010

Sumber : http://sugengpri.blog.undip.ac.id/2010/03/03/mengembangkan-perpustakaan-dengan-free-open-source-software/

Sekarang ini teknologi informasi telah berkembang dengan pesat dan memberikan
kemudahan di segala bidang. Perkembangan teknologi informasi tersebut
disebarkan melalui jaringan internet, yang telah menghubungkan semua
orang dan menyingkirkan segala keterbatasan jarak dan waktu. Dengan
penguasaan teknologi dan media yang ada di internet, keterbatasan dana
bukan menjadi suatu halangan bagi siapa saja untuk maju dan memberikan
nilai tambah bagi dirinya.

Dampak dari perkembangan teknologi informasi tersebut juga merambah ke dunia
perpustakaan. Perkenalan perpustakaan dengan teknologi berawal dari
pemikiran untuk menggunakan komputer untuk melakukan otomasi pekerjaan
perpustakaan. Berawal dengan teknologi penelusuran/OPAC hingga
perpustakaan digital. Saat ini perpustakaan digital telah menjadi suatu
kebutuhan untuk memberikan layanan bagi pengguna.

Di internet telah banyak software yang disediakan dengan gratis dengan lisensi GNU/GPL (General is Not Unix/General Public License) atau lisensi public. Software itu bebas bagi siapa saja untuk diunduh,
dimanfaatkan dan dikembangkan. Beberapa tahun yang lalu pemerintah
Indonesia juga telah mendeklarasikan gerakan Indonesia Goes to Open Source
(IGOS) yang dimotori oleh Kementerian Riset dan Teknologi dengan tujuan
mendorong pengguna teknologi informasi di Indonesia unntuk menggunakan
software open source. Tetapi perkembangan open source dirasakan masih
lambat penggunaanya, terutama di lembaga-lembaga pemerintah.
Beberapa hambatan yang biasa dihadapi oleh lembaga pemerintah adalah :

  • Kebijakan dan prosedur implementasi Open Source Software
  • Kesulitan dalam melakukan instalasi program
  • Kurangnya program pendukung (training, bantuan eksternal, pemeliharaan)

Sedangkan beberapa hambatan yang dihadapi oleh para pengguna IT adalah :

  • Kurangnya keinginan beralih ke OSS
  • Tidak adanya kemudahan penggunaan dibandingkan dengan software berlisensi
  • Tidak adanya kemudahan mempelajari pengoperasian OSS bagi pengguna baru
  • Kesulitan dalam mengoperasikan OSS

Open Source Software

Open Source Software (OSS), menurut Esther Dyson (1998),
didefinisikan sebagai perangkat lunak yang dikembangkan secara
gotong-royong tanpa koordinasi resmi, menggunakan kode program (source
code) yang tersedia secara bebas, serta didistribusikan melalui
internet. Menurut Richard Stallman (1998),
budaya gotong royong pengembangan perangkat lunak itu sendiri, telah
ada sejak komputer pertama kali dikembangkan. Namun ketika dinilai
memiliki nilai komersial, pihak industri perangkat lunak mulai
memaksakan konsep mereka perihal kepemilikan perangkan lunak. Dengan
dukungan finansial yang kuat — secara sepihak — mereka membentuk opini
masyarakat bahwa penggunaan perangkat lunak tanpa izin/ lisensi
merupakan tindakan kriminal.

Tidak semua pihak menerima konsep kepemilikan tersebut di atas. Richard Stallman (1994, 1996)
beranggapan bahwa perangkat lunak merupakan sesuatu yang seharusnya
selalu boleh dimodifikasi. Menyamakan hak cipta perangkat lunak dengan
barang cetakan merupakan perampasan kemerdekaan berkreasi. Semenjak
pertengahan tahun
1980-an, yang bersangkutan merintis proyek GNU (GNU is Not Unix) — dengan tujuan memberdayakan kembali para pengguna (users) dengan kebebasan (freedom) menggunakan dan mengembangkan sebuah perangkat lunak. Proyek ini memperkenalkan konsep copyleft yang pada dasarnya mengadopsi prinsip copyright,
namun prinsip tersebut digunakan untuk menjamin kebebasan berkreasi.
Jaminan tersebut berbentuk pelampiran source code, serta pernyataan
bahwa perangkat lunak tersebut boleh dimodifikasi asalkan tetap
mengikuti prinsip copyleft. Konsep dari proyek GNU ini lebih dikenal
dengan istilah “free software“.

Prinsip-prinsip free software tersebut memiliki banyak kesamaan dengan OSS. Namun menurut Richard Stallman (1998),
free software lebih menekankan pada hal hakiki yaitu kebebasan
mengembangkan perangkat lunak. Sedangkan menurut Eric S. Raymond (
2000), OSS lebih menekankan aspek komersial seperti kualitas tinggi, kecanggihan, dan kehandalan.

Open Source Dan Perpustakaan

Menurut UU
Perpustakaan pada Bab I pasal 1 menyatakan Perpustakaan adalah
institusi yang mengumpulkan pengetahuan tercetak dan terekam,
mengelolanya dengan cara khusus guna memenuhi kebutuhan intelektualitas
para penggunanya melalui beragam cara interaksi pengetahuan. Hal ini
sejalan dengan apa yang telah dilakukan di kalangan open source, dimana
mereka saling berbagi (sharing) ilmu pengetahuan.

Perpustakaan dan open
source merupakan pasangan yang sempurna. Banyak sekali persamaan antara
open source dan perpustakaan, misalnya: adanya keterbukaan informasi
yang dapat diakses oleh semua orang, memberikan keuntungan untuk setiap
generasi secara terus menerus, diperuntukkan untuk semua kalangan dan
akan membuat dunia menjadi lebih baik.

Selain itu
perpustakaan merupakan suatu organisasi nirlaba. Prinsip-prinsip yang
terkandung dalam pengertian perpustakaan inilah yang menjadi suatu
penghubung dengan budaya open source. Prinsip-prinsip open source yang
merupakan hasil kerja bersama/gotong royong, keterbukaan/kebebasan
dalam hal kode program dan bebas untuk mendistribusikan merupakan hal
yang sejalan dengan perpustakaan.

Hal-Hal Yang Sering Menjadi Pertanyaan

Meskipun
produk-produk open source software sudah banyak dihasilkan dan
didistribusikan di internet akan tetapi masih banyak perpustakaan yang
menghadapi kendala dalam mengembangkan teknologi informasi. Hambatan
utama yang banyak dikeluhkan adalah kurangnya dana dan SDM yang
menguasai teknologi informasi. Padahal telah tersedia open source
software yang murah atau bahkan gratis dan dapat beroperasi dengan baik
pada komputer lama, yang banyak dimiliki perpustakaan.

Hal-hal yang sering menjadi pertanyaan sehingga suatu perpustakaan tidak mau menggunakan Open Source Software adalah

· Apakah ada suatu dukungan yang kuat ?

Pada
saat ini telah banyak komunitas pengguna open source yang bergabung dan
bekerja sama mengembangkan suatu open source software. Komunitas itu
berkomunikasi di dalam sebuah kelompok di internet. Media komunikasi
yang banyak digunakan misalnya milis, forum dll.
Dengan
bergabung di komunitas open source software tersebut kita dapat
mengetahui perkembangan terbaru dan sharing ide-ide.
Komunitas-komunitas open source di Indonesia misalnya KPLI (Kelompok
Pengguna Linux Indonesia), KALI (Komunitas Athenaum Light Indonesia),
Toolib dan ICS-ISIS (milis IT Perpustakaan), dll.

· Apakah harus menguasai program ini ?

Kita
tidak perlu menguasai suatu software dengan kategori ahli. Dengan usaha
keras dan kesabaran maka kita dapat menggunakan software tersebut.
Selain itu untuk mengatasi keterbatasan SDM, perpustakaan dapat bekerja
sama dengan pihak luar misalnya mahasiswa.

· Apakah software tersebut miskin fitur ?

Banyak
kalangan yang meragukan suatu software open source apakah
fitur-fiturnya sama banyaknya dengan software legal/proprietary. Banyak
yang berpikir suatu software yang gratis pasti tidak secanggih dengan
yang berbayar. Meskipun banyak software open source yang memiliki
kekurangan dalam hal kompatibilitas hardware tetapi sekarang ini banyak
pula software open source yang memiliki fitur lengkap seperti software
berbayar, bahkan perkembangannya akan lebih cepat karena didukung
secara sukarela oleh banyak kalangan.

· Apakah tidak beresiko ?

Resiko
yang dialami dalam penerapan software open source seperti yang
dikhawatirkan banyak kalangan dapat diminimalisir apabila kita aktif
dalam suatu komunitas. Setiap ada permasalahan dapat kita sampaikan dan biasanya ada yang memberikan solusi secara sukarela. Semua perkembangan terbaru dapat kita peroleh di komunitas.

Produk Open Source untuk Perpustakaan

Pada saat ini open
source sudah populer karena tidak ada vendor yang menguasai secara
mutlak seperti Microsoft. Perkembangannya user centris dalam artian
bahwa suatu software open source akan berkembang dengan pesat apabila
banyak anggota yang berpartisipasi. Kebebasan untuk
berinovasi dan gratis menjadi suatu magnet bagi semua kalangan. Akan
tetapi keberadaan open source tidak dimanfaatkan secara optimal di
perpustakaan. Padahal banyak sekali keuntungan dengan berkembangnya
budaya open source di bidang teknologi informasi bagi perpustakaan.

Produk Open Source Software yang dapat digunakan oleh perpustakaan misalnya :

1. Operating System

Sebenarnya
seiring dengan berkembangnya Linux maka telah banyak berkembang produk
software open source untuk system operasi misalnya Ubuntu, Fedora,
Debian, Blankon (Ubuntu versi Indonesia). Distribusinyapun juga dapat diperoleh dengan mudah dan gratis. Hanya dikenakan biaya pengiriman CD.

2. Office Software

Banyak
sekali software open source yang digunakan untuk aplikasi perkantoran,
yang paling popular adalah Open Office, dengan banyak fitur yang
kompatibel dengan MS Office.

3. Grafis

Software
berbayar yang banyak digunakan adalah Corel dan Adobe (Photoshop,
Ilustrator, Image Ready dll). Software open source yang dapat digunakan
salah satunya yaitu Gimp, dengan kemampuan yang hampir sama.

4. Web Design

Untuk
membuat sebuah website di internet dapat digunakan Content Management
Systems (CMS) atau blogging, misalnya Wordpress, Mambo, Drupal dan
Joomla.

5. E-Learning

Untuk
e-learning dapat menggunakan Moodle. Software open source berbasis web
untuk e-learning dengan berbagai fitur yang lengkap dan kini sudah ada
dalam bahasa Indonesia.

6. Riset

Untuk
memenuhi kebutuhan riset/penelitian maka dibutuhkan suatu software yang
mengkoleksi data referensi atau sitasi online seluruh dunia. Software
open source yang ada yaitu Libx.

7. Aplikasi Perpustakaan

  • OPAC

Generasi
awal aplikasi perpustakaan adalah ISIS untuk OPAC yang berbasis DOS
(CDS-ISIS), kemudian berkembang dengan berbasis windows (Winisis),
hingga berbasis web (www-isis, open-isis). Di Indonesia banyak
dikembangkan produk turunan dari ISIS yang lebih maju, dapat digunakan
untuk seluruh kegiatan perpustakaan misalnya SIPISIS. Adapula yang
hanya untuk OPAC yaitu XIGLOO.

  • Katalogisasi

Kegiatan
katalogisasi di perpustakaan dapat dilakukan dengan menggunakan biblios
(biblios.org) yang merupakan open source software untuk membuat basis
data koleksi perpustakaan. Basis data yang dihasilkan sudah sesuai
dengan standard MARC dan Dublin Core yang dapat dieksport/import.

  • Automasi Perpustakaan

Open
Source Software automasi perpustakaan banyak tersedia di internet baik
produk dalam maupun luar negeri dengan fitur yang sederhana maupun yang
lengkap. Software tersebut dapat digunakan dengan gratis tanpa harus membayar lisensi dan dapat dirubah sesuai kehendak pemakai.

Software
open source untuk automasi perpustakaan produk dalam negeri misalnya
Senayan, Freelib, Kopi Manis, Athenaum Light, OtomigenX dll.

Software open source produk luar negeri misalnya Koha, ABCD, WWWISIS, Open biblio dll.

  • Perpustakaan Digital

Produk open source software untuk perpustakaan digital pun banyak tersedia di internet baik berasal dari dalam dan luar negeri. Untuk dalam negeri misalnya GDL dan luar negeri misalnya Eprints, Greenstone.

Penutup

Perkembangan
teknologi open source sudah sangat pesat, membawa suatu harapan dan
kekhawatiran bagi perpustakaan, memberikan tawaran untuk melangkah demi
meningkatkan layanan yang diberikan ke penggunanya. Ketergantungan
dengan pihak luar seharusnya sudah dikurangi atau dihilangkan, agar
tidak menghambat kemajuan perpustakaan dalam memberikan layanan yang
memuaskan sesuai dengan trend perubahan perilaku pengguna dan
perkembangan teknologi informasi.

Untuk itu perlu suatu
keberanian, usaha terus menerus, dan kesabaran untuk berubah dan mulai
mencoba untuk menggunakan open source software dalam setiap pekerjaan
kerumahtanggaan perpustakaan.

Referensi

Crawford,
Richard S.. Open Source Solutions for Library Needs.. School of Library
and Information Sciences, San Jose State University

Dyson, Esther, 1998, The Open Source Revolution, Release 1.0, November 1998, (DEAD URL).

Engard, Nicole C., Open Source For Libraries: All Grown Up.. http://liblime.com

http://wiki.detikinet.com/index.php/Sejarah_Internet_Indonesia:Open_Source_Software

Raymond, Eric S., 2000, Frequently Asked Questions about Open Source, per November 2001: http://www.opensource.org/advocacy/faq.html.

Stallman, Richard M., 1994, Mengapa Perangkat Lunak Seharusnya Tanpa Pemilik, per November 2001: http://gnux.vlsm.org/philosophy/why-free.id.html.

Stallman, Richard M., 1996, Kategori Perangkat Lunak Bebas dan Tidak Bebas, per November 2001: http://gnux.vlsm.org/philosophy/categories.id.html

Sukmandityo,
Rino., keberadaan software open source di-indonesia.
http://frankdjeby.wordpress.com/2008/11/18/keberadaan-software-open-source-di-indonesia/

Undang-Undang No 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan